Sat. May 21st, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Saham yang Baru Masuk Indeks LQ45 Berpotensi Mengalami Koreksi

2 min read

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan perubahan komposisi saham dalam indeks LQ45 untuk periode Februari-Juli 2022.

Sebanyak lima saham terdepak dari indeks paling likuid di pasar modal Indonesia tersebut. Saham-saham itu, PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON).

Sedangkan yang masuk menggantikannya, yakni PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), PT Harum Energy (HRUM), dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT).

Analis Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova menilai untuk saham-saham yang baru masuk jajaran LQ45 memiliki potensi penguatan. Penguatan bervariasi, mungkin ada yang bisa mencapai sekitar 15%,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (26/1).

Walau begitu, dia melihat bahwa secara teknikal justru ada saham-saham yang berpotensi untuk masuk fase koreksi yang perkiraannya tidak sebentar. Hal itu disebabkan tren kenaikan harga yang telah terjadi sebelumnya.

Lalu, dari sisi fundamental secara umum emiten-emiten yang masuk itu juga mencatatkan pertumbuhan kinerja di 2021 dan diperkirakan tahun ini masih akan berlanjut. Kemudian, secara valuasi jika melihat dari sisi PE dan PBV hampir semuanya sudah lebih tinggi dari rata-rata historis 5 tahun.

“Sehingga tidak perlu terburu-buru apabila hendak mengakumulasi saham-saham tersebut di samping adanya potensi koreksi secara teknikal,” jelasnya.

Untuk saham-saham yang masuk di jajaran LQ45, Ivan merekomendasikan buy AMRT dengan target Rp 1.285 dan Rp 1.350, BFIN dengan target harga Rp 1.400, dan WSKT dengan target harga Rp 700.

Sebaliknya, untuk saham-saham yang keluar dari LQ45 ia menilai akan ada dampak, yaitu terjadi tekanan harga yang diperkirakan secara relatif juga mencapai 7%.

Kendati begitu, saham yang keluar dari daftar LQ45 bukan berarti tidak menarik. Sebab, diantaranya secara fundamental di tahun 2021 kinerjanya membaik dan berprospek di 2022 ini.

“Jika kinerja masih bertumbuh maka tekanan harga yang terjadi saat ini justru membuat saham-saham tersebut secara valuasi menjadi lebih murah,” terangnya.

Baca juga !