Sun. Aug 14th, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

PMI Manufaktur Indonesia Berpotensi Kembali Terkoreksi Tipis pada Juli 2022

2 min read

JAKARTA. S&P Global mencatat, Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juni 2022 berada di level 50,2, atau menurun dari Mei 2022 yang sebesar 50,8.

Chief of Economist Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo melihat bahwa ketegangan geopolitik yang terjadi antara Ukraina dan Rusia masih akan menjadi noise utama dalam agenda economy recovery. Belum adanya sinyal penyelesaian konflik menyebabkan kenaikan harga komoditas energi serta disrupsi rantai pasok global berlanjut.

Banjaran menyebut, efek dari gangguan rantai pasok dan kenaikan harga komoditas global terutama energi akan dirasakan oleh hampir seluruh sektor manufaktur. Menurutnya, PMI Indonesia yang terus turun dari 51,9 di bulan April menjadi 50,08 di bulan Mei, dan kembali turun ke level 50,02 di bulan Juni 2022 menggambarkan kontraksi di sisi produksi yang memicu kenaikan harga konsumen.

Di sisi lain, tren inflasi global serta kontraksi di sisi supply akan berdampak terhadap penurunan konsumsi serta perlambatan ekonomi domestik. Sehingga menurutnya, yang perlu diwaspadai dari kenaikan harga konsumen ini adalah pressure terhadap dua sisi, yaitu meningkatnya risiko pada perusahaan manufaktur yang menggunakan bahan baku berbasis impor, serta melemahnya daya beli masyarakat.

“Dengan tren inflasi yang terus meningkat serta kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik, diperkirakan PMI bulan Juli akan kembali terkoreksi tipis di level 50,01,” ujar Banjaran kepada Kontan.co.id, Minggu (3/7).

Mengutip berita Kontan, aktivitas manufaktur Indonesia masih berada dalam zona ekspansi karena masih di level 50. Namun laju ekspansi tersebut terus melambat pada Juni 2022. Kondisi perlambatan ini baru terjadi setelah 10 bulan berturut-turut PMI manufaktur Indonesia berada di zona ekspansi.

Kepa Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu mengatakan bahwa ekspansi tersebut menunjukkan aktivitas produksi yang masih terus meningkat. Gejolak geopoltik serta perlambatan ekonomi dunia, khususnya di Tiongkok, mengganggu rantai pasok global dan menghambat laju ekspansi manufaktur Indonesia, yang juga dialami oleh sebagian besar negara di kawasan Asia, termasuk Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Vietnam, Thailand, dan Filipina.

“Pemerintah akan terus memonitor dinamika dan prospek ekonomi global ke depan serta memitigasi berbagai dampak yang mungkin timbul. Berbagai instrumen yang ada, termasuk APBN, akan dioptimalkan untuk meminimalisasi dampaknya pada perekonomian domestik,” kata Febrio dalam keterangan resminya, Sabtu (2/7) kemarin.

Baca juga !