Tue. Jul 5th, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Syafii Maarif Tak Dimakamkan di TMP Kalibata, Mahfud MD: Sudah Pesan Sendiri

3 min read

Jakarta – Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopulhukam) Mahfud MD melayat dan mendoakan Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii saat disemayamkan di Masjid Gedhe Kauman sebelum dikebumikan di Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta Jumat 27 Mei 2022. Mahfud menyatakan bahwa Buya Syafii memilih tak menggunakan haknya untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.

Mahfud meenyatakan Buya Syafii mendapatkan hak untuk dimakamkan di TMP Kalibata karena memegang penghargaan Bintang Mahaputera Utama dari pemerintah. Penghargaan itu diberikan oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi pada 2015.

“Kalau itu mau dilakukan (pemakaman di TMP Kalibata), pemerintah akan memfasiltasi,” kata Mahfud.

Mahfud mengatakan negara akan memfasilitasi itu karena memang lokasi pemakaman tersebut diperuntukkan bagi para pahlawan negara. Termasuk negarawan seperti Buya Syafii yang memegang anugerah Bintang Mahaputera Utama.

“Tapi setelah saya koordinasi dengan keluarga dan Pak Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah), rupanya Buya sudah memesan makamnya sendiri,” kata Mahfud.

Buya Syafii, menurut Mahfud telah sudah memesan lokasi makamnya di Pemakaman Muhammadiyah pada 24 Februari 2022 silam. Tepatnya di Dusun Donomulyo, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulonprogo.

“Jadi beliau tidak jadi dimakamkan di taman makam pahlawan,” kata mantan Ketua MK itu.

Mahfud mengatakan ia kehilangan seorang tokoh seperti Buya Syafii.

“Meskipun beliau bukan seorang ningrat, tapi bisa disebut seorang bangsawan. Bangsawan dalam arti bahwa dia selalu berpikir untuk kepentingan bangsanya sampai saat-saat terakhir,” kata dia.

Oleh sebab itu, Mahfud mengatakan generasi bangsa perlu melanjutkan ide-ide Buya dalam kehidupan bersama berbangsa dan bernegara.

“Yaitu rukun bersatu kemudian kompak saling membantu dalam prinsip hubungan antar manusia,” kata dia.

“Kalau hubungan antara manusia itu seperti yang diajarkan oleh agama yang diyakini pak Syafii Maarif, kita tidak akan membeda-bedakan ikatan primordial,” kata dia.

Buya Syafii dikenal Mahfud cukup lama.

“Ketika kami muda sebagai pemuda Islam pandangan politiknya itu kami pernah sama mendambakan agar Indonesia dikuasai Islam karena Islam mayoritas,” kata dia.

” Tapi sesudah belajar, lama-lama kemudian kami berpikir, tidak harus negara itu harus bersimbolkan Islam tapi harus menjadi negara agamis maka Pancasila itu adalah pedoman berbangsa dan bernegara yang kompetibel,” kata dia.

“Artinya tidak mengganggu kelancaran perjuangan umat Islam untuk berbangsa bernegara dan beribadah itu yang diajarkan Pak Syafii,” kata Mahfud.

Mahfud dan Buya sepakat bahwa Islam itu agama kemanusiaan. “Semua orang bersaudara,” kata dia.

Syafii Maarif lahir di Nagari Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat pada 31 Mei 1935. Dia bersentuhan dengan Muhammadiyah ketika sejak masih kecil. Dia pernah menimba ilmu di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Lintau, Sumatera Barat.

Keputusannya menimba ilmu di Yogyakarta semakin membuat Syafii dekat dengan Muhammadiyah. Dia menerikan sekolahnya Mualimin Yogyakarta dan kemudian meneruskan ke jenjang perguruan tinggi di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yogyakarta (Sekarang bernama Universitas Negeri Yogyakarta) dan tamat pada tahun 1968.

Selama menjadi pelajar dan mahasiswa dia aktif di lembaga pers majalah Sinar, majalah pelajar Mualimin. Dia juga pernah menjadi jurnalis hingga menjadi redaktur di Suara Muhammadiyah. Syafii juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam kala itu.

Buya Syafii juga pernah menempuh pendidikan S2 di Ohio State University, Amerika Serikat dan S3 dari University of Chicago, Amerika Serikat.

Sepanjang hayatnya, Syafii Maarif pernah menjabat sebagai menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah (1998-2005), Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP), dan pendiri Maarif Institute.

Baca juga !